Cerita Pribadi dengan Mengaplikasikan llmu Manajemen
Nama : Khalidah M. Noer Harahap
Kelas : Peternakan D
NIM : 11581202662
TM : 1/07 Oktober 2015
Assalamu’alaikum
wr. Wb
Nama saya
Khalidah M. Noer Harahap, dilahirkan di Minas pada tanggal 04 Oktober
1996. Ayah saya bernama Makmur harahap dan ibu yang bernama Nurmiah. Lahir
sebagai anak pertama di keluarga dengan kondisi ekonomi keluarga yang sederhana
dengan seorang adik perempuan yang telah berusia 17 dan seorang adik laki-laki
yang telah berusia 6 tahun.
Menjadi seorang anak sulung merupakan suatu beban
yang mau tidak mau harus diemban. Apalagi kedua adik saya memiliki kekurangan dari
segi akal. Adik perempuans aya yang
bernama Dewi Vortuna hanya tamat SD. Dia tidak cacat secara fisik dan tidak
pula cacat mental melainkan lemah dalam hal belajar. Setiap tahun pelajaran ayah
dan ibu selalu dibuat kalang kabut untuk mengusahakannya agar naik kelas, baik
merayu kepala sekolah dengan iming-iming maupun memindahkan nya ke sekolah lain
agar ia tidak tinggal kelas.
Adik laki-laki saya yang bernama Mhd. Ballan
Anggitta Putra Harahap lahir dengan kadar bili rubin yang tinggi sehingga saat
baru lahir ia harus di inkubasi selama 10 hari. Ibu saya yang saat itu sudah
positif mengidap penyakit diabetes
memberikan dampak terhadapnya mulai dari berat badan nya yang diatas berat bayi
normal dan bili rubin (zat warna kuning pada tubuh) yang tinggi. Berbagai macam
selang di sambungkan ketubuhnya hingga saat itu ayah merasa takut kalau dia
tidak akan lama hidupnya. Namun, atas izin Allah Swt hingga saat ini dia masih
diberi umur walau hingga saat ini dia tidak lancar berbicara seperti anak-anak
sebayanya yang sudah fasih berbicara.
Hal itu membuat tugasku sebagai seorang anak sulung
menjadi berat. Mereka tumbuh tanpa duduk dibangku sekolah sepertiku. Tanggung
jawabku sangat berat, ayah selalu mengingatkanku bahwa “jika ayah dan ibu
meninggal kamulah orang yang harus menjaga kedua adikmu, mereka tidak bisa kita
tuntut untuk menjadi sepertimu yang mempunyai kelebihan dibandingkan anak-anak
lain” dan ayah pun berkata demikian setiap saat kami berkumpul santai dirumah.
Dari kecil cita-citaku adalah ingin menjadi seorang
dokter spesialis kandungan dan ingin kuliah di Universitas Sumatra Utara.
Cita-cita itu memang sangat mustahil bagi seorang anak yang lahir dari keluarga
yang sederhana apalagi di zaman sekarang yang serba main duit, sogok-menyogok,
main orang dalam dan lain sebagainya. Kenapa aku bercita-cita ingin menjadi
dokter spesialis kandungan? Karena saat itu ibuku mengandung adik ketiga atau
anak keempatnya. Ibuku sudah mengidap penyakit diabetes. Secara ilmu kedokteran
orang yang sudah berumur dan mengidap penyakit diabetes seharusnya tidak boleh
hamil lagi, namun ibuku saat tetap mengandung anak ke empat. Dokter mengatakan
ibuku harus melahirkan pada tanggal 18 februari 2014 kalau tidak salah. Di beri
suntikan agar adikku lahir, karena apabila tidak diberi suntikan perangsang,
bisa saja ibuku tidak ada tanda-tanda akan melahirkan jika di tunggu lebih lama
lagi dan akan meninggal detak jantungnya (meninggal dalam kandungan).
Tanggal kelahiran yang telah ditentukan pun telah
tiba. Dan saat itu juga ibuku sudah siap untuk melahirkan. Namun apa yang
dikatakan dokter di rumah sakit Ibnu Sina itu tepat nya “ibuk ditunda besok
saja melahirkan nya, saya masih ada 2 operasi lagi” dan alhasil ibuku memesan
satu kamar rumah sakit dan menunggu sampai besok. Karena itu ayahku yang
tadinya besama ibuku pulang kembali kerumah dan meninggalkan ibuku sendirian
dirumah sakit.
Tapi apa yang terjadi? Tepat tengah malam ibuku
diperiksa oleh perawat dan ternyata detak jantung adikku tidak ada lagi. Malam
itu ayahku langsung bergegas pergi kerumah sakit dan apa mau dikata innalillahi
wa inna ilaihi roji’un anak yang dikandung ibuku sudah tak berdetak jantungnya.
Saat itu ayah marah kepada pihak rumah sakit.
Seandainya saya punya kekuasaan saya akan tuntut pihak rumah sakit atas
kelalaian nya dalam menjaga pasien dan tidak mendahulukan orang yang beresiko
terlebih dahulu dari pada orang yang tidak beresiko.
Dari pengalaman pahit itu aku bercita-cita menjadi
seorang dokter spesialis kandungan agar tidak terulang kembali kejadian seperti
ibuku.
Namun setelah tamat SMA aku dihadapkan dengan banyak
hambatan mulai dari nilai yang tidak mencukupi untuk masuk kedokteran, dan
biaya kuliah kedokteran yang angat mahal. Akupun memilih untuk menyerah untuk
menggapai mimpiku untuk menjadi seorang dokter. Saat jalur SNMPTN (Seleksi
Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negri) aku memilih jurusan Ilmu Kesehatan
Masyarakat (USU), Ilmu Biologi (UNRI), dan Manajemen Sumber daya Perairan
(unri) dan dinyatakan tidak lulus.
Kemudian di jalur PBUD (penyaringan Bibit Unggul
Daerah) memsukkan jurusan Teknik Kimia (UNRI), dan Ilmu Kelautan UNRI). Dan
dinyatakan Tidak lulus juga. Kemudian mencoba kembali jalur SBMPTN (Seleksi
Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) mengambil jurusan Pertanian (UNRI),
Manajemen Sumber daya Perairan (UNRI), dan Ilmu Peternakan (UIN SUSKA RIAU).
Namun, kebimbangan terus terjadi dalam diriku takut
tak jua jebol di jalur SBMPTN ini dan sudah kecewa dengan unri. Aku hijrah,
mecoba tes di UMSU (Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara) Medan dan mengambil
jurusam Manajemen.
Pengumuman Kelulusan di UMSU Lebih dulu 2 hari
dibandingkan SBMPTN dan aku dinyatakan lulus di jurusan Manajemen. Sudah
mempersiapkan biaya kuliah yang akan dibayar jikalau memang tidak lulus SBMPTN.
Namun dua hari berikutnya dengan hati yang berdebar-debar tak karuan.
Alhamdulillah jebol di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau pada
jurusan Peternakan.
2 pilihan ada ditangan, keluarga menyarankan untuk
memilih UIN SUSKA dari pada UMSU. Dan berlanjut hingga sekarang.
Entah apa yang terjadi Cita-cita ku tak terwujud dan
malah melenceng ke peternakan. Bimbang dan ragu, takut tak sesuai keinginan.
Namun, setelah beberapa kali mengikuti seminar. Prospek pekerjaan di bidang
peternakan ini ternyata luas. Tidak hanya bergumul dengan hewan melainkan bisa
bekerja di bagian dinas peternakan, kerja di perbankan, menjadi dosen. Apalagi
dengan adanya bea siswa kuliah ke jepang jika ipk tinggi yang kudengar
membuatku semakin yakin bahwa jurusan ini menjanjikan.
Dengan kondisi keluarga yang akulah satu-satunya
harapan bagi kedua orang tua ku membuatku memiliki komitmen untuk tekun dalam
kuliah. Memulai untuk maju. Dengan hidup sebagai anak Kosh membuatku harus
menerapkan ilmu Manajemen. Memanage waktu untuk kuliah, beribadah, memanage
pengeluaran.
Ayahku mengirimi ku uang saku sebulangnya Rp
1.000.000,00 sudah termasuk uang sewa kosh perbulannya yang sebesar Rp
250.000,00 kemudian uang minyak bensin sepeda motor. Disitu aku ditantang untuk
bisa mengatur pengeluaran perbulan. Menabungpun kulakukan agar suatu saat nanti
jika aku mebutuhkan uang tidak perlu meminta tambahan kepada ayahku.
Tentunya uang segitu cukup untuk makan dan kebutuhan
pokokku sehari-hari. Namun, ada kalanya kita sebagai manusia menginginkan
hal-hal yang bersifat mewah dan lain-lain. Karena itu aku mulai berfikir
bagaimana cara agar duit yang diberika orang tuaku bisa kumanfaat kan dan
menambah pundi-pundi pendapatanku. Akhirnya aku memilih untuk berjualan pulsa
yang awalnya bermodalkan Rp 100. 000,00. Memulai dengan pembukuan dan
pencatatan pulsa yang masuk dan yang keluar, serta untung rugi tak luput harus
dicatat agar tau berapa pendapatan yang diperoleh. Untuk modal 100.000 ini
keuntungan yang diperoleh bervariasi
tergantung besar pulsa yang dibeli konsumen semakin kecil pulsa yang diminta
maka semakin berpeluang meghasilkan keuntungan yang lumayan untuk modal segitu.
Menjual pulsa ini baru kulakukan kurang lebih seminggu. Dalam pencatatan
pertama setelah dihitung menghasilkan keuntukngan Rp 13.000, untuk modal 100.000
habisnya terkadang cepat dan terkadang pula lama.
Kendala yang dialami saat berjualan pulsa sebagai
mahasiswa ini adalah banyaknya teman yang ngutang pulsa sehingga modal
berkurang dan untuk membeli lagi dibutuhkan kesabaran dalam menagih dan penambahan
modal.
Pembukuan adalah hal yang sangat penting dalam
berbisnis pulsa ini, terlebih lagi untuk yang mengutang harus jelas pencatatan
tanggal dan nominal yang iya hutangi.
Sebenarnya aku memulai jualan pulsa sejak duduk
dikelas 1 SMA namun terhenti dikarenakan libur panjang kelulusan SMA. Karena
sasaran penjualan pulsa saat itu merupakan teman sekalas maupun teman satu
sekolah. Jasa ini sangat terasa sekali manfaatnya seperti jika kita memerlukan
pulsa cepat teman-temanku tidak ragu untuk membeli pulsaku. Baik memesan
melalui sms, maupun bbm, bahkan terkadang ada juga melalui chat facebook.
Keuntungan yang diperoleh cukup besar, sehingga
untuk menjaga keuntngan tersebut aku membelikannya ke sebuah cincin gram
seharga Rp 1.040.000,00 untuk cara menabung atau investasi dari keuntungan
berjualan pulsa.
Kemudian saya mempunyai suatu keinginan untuk
berbisnis yaitu membuka counter hp dan warnet karena bagi saya di bidang bisnis
ini kerugiannya sangat minim tidak seperti berjualan sembako dan barang kosmetik
atau obat-obatan yang memiliki batas kadaluarsa dan apabila barang seperti
sayuran atau bahan lannya harganya tidak stabil. Berbeda dengan bisnis pulsa
atau counter hp dan warnet karena apabila tidak laku barang tersebut tidak
busuk atau terkena hama. Kemudian karena perkembangan teknologi yang semakin
lama semakin canggih membuat bisnis di bidang ini sangat menjanjikan.
Kembali kepada kehidupan tadi, didikan keras namun
penuh kasih sayang dari kedua orang tua itu sangat terasa manfaatnya saat kita
sudah jauh dari mereka. Jauh dari kehidupan mereka dulu kami termasuk sangat
beruntung. Karena dari kecil hingga kuliah masih dibiayai orang tua. Sedangkan
kedua orang tuaku bersusah payah sekolah mulai daari tidak adanya dukungan dari
orang tua, tidak diberi uang saku, dan jalan menuju sekolah yang melintasi
sungai dan lembah. Itu semua menjadi landasan mereka menginginkan aku untuk
sukses. Hidup bukan untuk berhura-hura, melainkan memperjuangkan masa depan
dengan bersakit-sakit dahulu lalu bersenang senang kemudian.
Hanya satu tuntutan meraka terhadapku yaitu kuliah
dengan sungguh-sungguh lalu sukses dan dapat mengangkat nama baik keluarga.
Kehidupan yang indah itu bukan yang kita dapat dari
orang lain, melainkan kehidupan yang indah itu adalah apa yang telah kita
perbuat untuk hidup kita sendiri dan apa yang kita berikan kepada orang lain
serta bagaimana membuat orang di sekeliling kita dapat merasakan kebahagiaan
itu juga.
Kehidupan bukan dinilai dari nominal yang kamu
peroleh, melainkan dari apa yang kamu perjuangkan untuk memperolehnya, dan
seberapa besar nominal itu membuatmu dekat kepada Allah yang memberikanmu
kehidupan.
Pemimpin yang sukses bukan mereka yang memiliki
banyak harta, melainkan mereka yang mampu menyukseskan dirinya dan menyukseskan
orang lain bersamanya.
Manajement waktu adalah hal sangat dibutuhkan untuk
untuk mewujudkan semua mimpi menjadi sebuah kenyataan.
**selesai**
0 Response to "Cerita Pribadi dengan Mengaplikasikan llmu Manajemen"
Post a Comment